
Jumat (26/07/2024) TIM II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tahun 2024 di Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, telah menjalankan Program Monodisiplin mengenai “Edukasi dan Pelatihan Pengelolaan Limbah Tahu untuk Diinovasikan menjadi Serundeng Ampas Tahu sebagai Peluang Bisnis Baru”. Serangkaian acara yang dilakukan berupa kegiatan pemberian edukasi, praktik pembuatan produk, dan dilanjutkan dengan pemberian produk serta booklet kepada pelaku UMKM setempat oleh One Triska Laksita (21), mahasiswi Teknologi Pangan angkatan 2021.
Program ini dilakukan dengan mendatangi setiap UMKM tahu yang ada di Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dengan memberikan edukasi serta pelatihan pembuatan produk beserta prototype kepada pelaku UMKM, sehingga bisa merasakan langsung produk makanan yang dibuat dan dapat diperhitungkan pula modal dan keuntungannya apabila dijadikan produk baru sebagai bisnis. Maksud dan tujuan program kerja ini adalah memberikan pengetahuan dan Pelatihan kepada pelaku UMKM mengenai pengolahan ampas tahu kedelai dari proses produksi limbah tahu menjadi produk pangan fungsional berupa “Serundeng Ampas Tahu” yang memiliki gizi tinggi dan marketable, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM selain dari penjualan tahu.
Limbah tahu diangkat menjadi produk olahan berupa serundeng ampas tahu dari program kerja ini dikarenakan UMKM tahu menjadi salah satu unggulan dari Desa Ngadipiro, yang mana sebagian masyarakat menggantungkan ekonominya dari produksi tahu rumahan. Proses produksi tahu menyisakan ampas yang secara umum belum termanfaatkan dengan baik. Ampas tahu ini merupakan hasil samping dari pengolahan tahu yang jumlahnya cukup banyak seiring dengan meningkatnya jumlah tahu yang diproduksi. UMKM tahu biasanya menjual ampas ini kepada pihak lain untuk diolah menjadi pakan ternak. Padahal Ampas tahu masih mempunyai kandungan karbohidrat dan protein yang masih relatif tinggi karena pada saat pembuatan tahu tidak semua kandungan dapat terestrak, apalagi bila hanya menggunakan proses penggilingan sederhana dan tradisional.
Kandungan kimia yang terdapat pada 100 gram ampas tahu memiliki kandungan kalori sebesar 414 kal, Protein 26,6 gram, Lemak 18,3 gram, Karbohidrat 41,3 gram, Kalsium 19 miligram, Fosfor 29 miligram, Zat Besi 4 miligram, Vitamin B1 0,2 miligram dan Air 9 gram. Namun meskipun demikian ampas tahu ini masih belum banyak yang dimanfaatkan dengan baik, bahkan masih ada pengrajin tahu yang membuang limbah atau ampas tahu begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan disekitarnya. Maka dari itu, perlu adanya inovasi pangan untuk meningkatkan ekonomi dan sebagai modal usaha produk baru dalam UMKM.
Serundeng adalah makanan khas Indonesia yang sering digunakan sebagai lauk-pauk nasi. Serundeng biasanya dibuat dari parutan kelapa yang digoreng hingga kuning kecoklatan dengan bumbu-bumbu yang khas. Akan tetapi, semakin berkembangnya teknologi pangan yang ada, memberikan berbagai inovasi terhadap pengolahan serundeng. Salah satunya serundeng yang berbahan dasar dari ampas tahu kedelai yang merupakan limbah padat yang dihasilkan dari produksi tahu. Hal ini menjadi salah satu peluang bisnis dengan modal sedikit tapi memiliki keuntungan yang melejit. Selain itu, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi dan inovasi berupa kemasan fungsional yaitu standing pouch yang memiliki banyak keunggulan. Salah satu keunggulan dari standing pouch adalah fitur penutupnya yang banyak tersedia dalam bentuk zipper lock sehingga dapat ditutup kembali untuk penyimpanan yang lebih aman. Penggunaan zipper pada kemasan standing pouch selain memberikan tampilan yang menarik juga membuat produk lebih higienis.
Setelah dilakukan pemaparan latar belakang dan edukasi mengenai pangan, dilanjutkan dengan pemaparan mengenai bahan-bahan yang digunakan, serta dilakukan demonstrasi pembuatan serundeng ampas tahu hingga siap dikemas.
Cara Pembuatan Serundeng Ampas Tahu
Bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan serundeng ampas tahu ini adalah limbah hasil produksi tahu pada UMKM berupa ampas tahu. Bahan tambahan lain berupa bumbu-bumbu penyedap juga mudah didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam satu kemasan jual seberat 150 gram diantaranya adalah :
- 200 g ampas tahu yang telah dikeringkan atau dijemur dibawah sinar matahari
- Bumbu halus berupa : 3 sdm minyak, 4 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, 2 cm kunyit, 2 butir kemiri, dan 5 buah cabe rawit
- Bumbu tambahan berupa : 8 g gula merah, 2 sdt garam, 1 sdt lada bubuk, 1sdt ketumbar bubuk, 2 lembar daun salam, dan 2 lembar daun jeruk
Pembuatan serundeng ampas tahu ini cukup mudah. Pertama, tumis bumbu yang telah dihaluskan. Tambahkan ketumbar bubuk, lada bubuk, dan bumbu tambahan yang telah disediakan serta ditumis hingga matang dan harum. Langkah selanjutnya masukkan ampas tahu yang telah dukeringkan dan aduk hingga tercampur rata. Dipastikan pengadukan dilakukan secara perlahan dan terus-menerus. Produk dimasak hingga kering kurang lebih 30 menit. Serundeng yang telah jadi kemudian didiamkan hingga dingin dan dikemas dalam wadah tertutup (standing pouch) agar lebih awet.

Setelah sesi praktik dan edukasi selesai, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Beberapa pertanyaan muncul dari pelaku UMKM yang bertanya lebih lanjut mengenai pengembangan resep, modal, harga jual, dan keuntungan yang di dapat, yang mana dapat di jawab dengan baik oleh One Triska. Salah satu pelaku UMKM juga menyampaikan terima kasih atas ilmu baru yang telah diberikan dan memberikan tanggapan yang positif dari produk inovatif ini.
“Limbah produksi tahu yang biasanya hanya dibuang dan sebagai pakan ternak ternyata masih memiliki manfaat dan dapat diolah menjadi makanan siap jual ya, Mbak. Ilmu ini bisa diterapkan dan menjadi produk baru dari UMKM saya nih, lumayan buat menambah pemasukan,” tutur Bu Afifah pemilik UMKM tahu.
Limbah hasil produksi tahu yang biasanya dianggap sepele dan dibuang ataupun hanya sebagai pakan ternak, sebenarnya masih memiliki nilai gizi yang tinggi dan dapat di olah lebih lanjut menjadi makanan fungsional dan memiliki nilai jual tinggi, sehingga perlu adanya inovasi yang lebih kreatif untuk pengembangannya.
Penulis: One Triska Laksita (KKN Tim II Undip 2024).