Semarang-tp.fpp.undip.ac.id – Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro menyelenggarakan orasi ilmiah bertema “Innovation for the Sustainability” dengan menghadirkan Dr. (HC) Tjiu Thomas Effency, S.E., MBA sebagai pembicara utama. Acara yang digelar di Gedung Prof. Soedarto ini dihadiri oleh sejumlah akademisi, pengusaha, serta pelaku industri pertanian. Dalam orasi ilmiahnya, Dr. Tjiu Thomas mengangkat topik “Strategic Initiative Mewujudkan Kemitraan Jagung Menuju Swasembada Jagung untuk Pakan Ternak.”
Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Dalam sambutannya, Dekan FPP menekankan pentingnya inovasi di sektor pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya dalam produksi jagung sebagai bahan pakan ternak dan pangan.
Dr. Tjiu Thomas mengungkapkan bahwa 90% produksi jagung di Indonesia digunakan untuk pakan ternak, terutama ayam. Saat ini, Indonesia memproduksi sekitar 12-13 juta ton jagung per tahun, tetapi masih memerlukan intensifikasi produksi untuk mencapai target swasembada. “Di negara maju, produktivitas jagung mencapai 10 ton per hektar, sedangkan Indonesia masih di angka 4 ton per hektar. Dengan lahan yang luas, Indonesia seharusnya bisa menjadi negara pengekspor jagung,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan varietas jagung agar dapat meningkatkan produksi per hektar. Varietas Arjuna Bisi, hasil perbaikan dari varietas asal Thailand, menjadi salah satu varietas unggul yang disukai petani karena mampu menghasilkan satu batang dengan dua tongkol. Penelitian-penelitian terus dilakukan, termasuk kolaborasi dengan perusahaan benih asal Amerika, untuk mengadaptasikan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Selain membahas aspek teknis, Dr. Tjiu Thomas juga menekankan pentingnya modernisasi di sektor pertanian. Dengan rata-rata usia petani Indonesia yang mencapai 50 tahun, teknologi seperti mesin tanam, mesin panen, serta drone untuk penyemprotan, sangat diperlukan agar petani milenial dapat mengatasi kendala cuaca dan meningkatkan produktivitas.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tjiu juga menyoroti kemitraan yang dibangun oleh Charoen Pokphand Indonesia (CPI) dalam program ayam broiler, yang menjadi salah satu model kemitraan unggulan. CPI juga menciptakan Mobile Corn Dryer (MCD), mesin pengering jagung yang dapat berpindah-pindah sesuai kebutuhan petani.
Menutup orasinya, Dr. Tjiu Thomas mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam mewujudkan swasembada jagung di Indonesia. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada impor jagung untuk pakan ternak, namun harus terus meningkatkan produksi dan kualitas jagung lokal.
Pemecahan Rekor MURI dengan Nasi Jagung
Sebagai bagian dari rangkaian acara, FPP Universitas Diponegoro juga mengadakan acara pemecahan rekor MURI untuk penyajian 60 jenis menu berbahan dasar nasi jagung dengan lauk ayam. Acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya jagung sebagai bahan pangan alternatif serta mendukung program ketahanan pangan nasional.
Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi ini, FPP Undip berharap dapat terus berkontribusi dalam memajukan sektor pertanian dan peternakan di Indonesia, serta mendukung pencapaian swasembada jagung dalam waktu dekat.